Thursday, October 20, 2011

SIBORONG-BORONG NAULI

Kopi yang dibudidayakan petani di Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, ternyata mulai dilirik oleh gerai kopi terbesar di dunia asal Amerika Serikat, Starbucks. Bahkan eksportir yang khusus menyuplai kebutuhan kopi untuk Starbucks, siap membeli harga kopi dari petani lebih mahal dibanding harga pasar, dengan catatan petani tersebut merupakan anggota koperasi.

Koperasi yang diajak bekerja sama menampung kopi petani Siborongborong yang akan diekspor untuk kebutuhan Starbucks adalah Wira Koperasi Satolop. Menurut Rob inson Bakara, salah seorang penggiat di Wira Koperasi Satolop, saat ini koperasinya sudah diminta menyelesaikan permasalahan administrasi untuk melengkapi kerja sama perdagangan dengan salah satu eksportir kopi yang memasok biji kopi Sumatera ke Starbucks, PT Sumatera Speciality Coffees (SSC).
“Starbucks melalui PT SSC dan mitranya Fair Trade International, mau membeli kopi dari petani anggota koperasi dengan harga lebih mahal sekitar 0,1 poundsterling Inggris per kilogramnya. Nantinya, hasil panen kopi petani langsung ditampung oleh PT SSC,” kata Robinson.
Menurut dia, saat ini pasar kopi tradisional di Siborongborong selalu dikuasai oleh pengumpul atau agen eksportir dari Medan. Harga kopi di tingkat petani tak pernah stabil. Wira Koperasi, lanjut Robinson, pernah berusaha mengajak kerja sama PT SSC agar menampung kopi petani kualitas pertama. Namun, ajakan ini sempat tak mendapat respons.
“Baru beberapa waktu terakhir ini, PT SSC mempertimbangkan proposal kerja sama kami. Apalagi Starbucks mau membeli kopi dari PT SSC dari harga yang lebih tinggi dari harga pasar, jika mereka mendapatkan kopi dari koperasi petani,” katanya.
Kopi yang dibudidayakan petani di Siborongborong mayoritas adalah kopi jenis Arabica dari benih yang dihasilkan perkebunan kopi di Jember, Jawa Timur. Penduduk setempat menyebutnya sebagai kopi Ateng karena pokoknya yang rendah dan mudah dipanen.
Read more >>